Sebelum perjalanan dimulai, kenali dulu
mengapa ia layak ditempuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Kamu sedang membuka sebuah kisah. Bukan kisah biasa.
Ini adalah kisah tentang seorang manusia yang lahir di padang pasir Arabia, empat belas abad yang lalu. Tidak punya kerajaan di tangannya saat pertama kali berdakwah. Tidak punya pasukan. Tidak punya harta yang melimpah.
Tapi hari ini — namanya disebut lebih dari satu miliar kali sehari, di setiap azan yang berkumandang di seluruh penjuru bumi.
Siapa beliau? Muhammad ﷺ. Rasulullah. Penutup para nabi.
Dan kita — yang hidup empat belas abad setelahnya — masih bisa mengenal beliau. Karena para ulama menjaga kisah hidupnya dengan sangat teliti. Setiap langkah dicatat. Setiap ucapan direkam. Setiap kebiasaan diteruskan.
Itulah yang kita sebut: Sirah Nabawiyah.
Sirah menurut bahasa artinya perjalanan hidup. Menurut istilah, ia adalah kisah lengkap kehidupan Rasulullah ﷺ — dari kelahiran beliau di Tahun Gajah hingga wafatnya pada 12 Rabi'ul Awwal tahun ke-11 Hijriah. Enam puluh tiga tahun kehidupan yang seluruhnya tercatat, terjaga, dan tersampai kepada kita.
Tapi kenapa kita perlu mempelajarinya?
Bukan sekadar untuk tahu tanggal lahir atau urutan perang. Sirah bukan pelajaran sejarah biasa.
Ali bin Husain Zainal Abidin rahimahullah berkata: "Kami mengajarkan peperangan-peperangan Rasulullah ﷺ sebagaimana kami mengajarkan surah-surah Al-Qur'an."
Dan Az-Zuhri rahimahullah berkata: "Dalam ilmu sirah terkandung ilmu akherat dan dunia."
Mengapa? Karena sirah adalah perwujudan nyata dari wahyu. Bukan sekadar peristiwa sejarah yang darinya diambil pelajaran belaka. Ia adalah metode yang jelas, jalan lurus yang ditempuh dan diikuti. Rasulullah ﷺ mewujudkan seluruh ajaran Islam dalam dirinya — dalam tidur dan terjaganya, dalam damai dan perangnya, dalam serius dan bercandanya, dalam kesendirian maupun di hadapan khalayak.
Ustaz Sulaiman an-Nadawi menyebutkan bahwa kehidupan seorang tokoh yang layak dijadikan teladan harus memenuhi empat kriteria: bersifat historis (terbukti kebenarannya), menyeluruh (mencakup semua aspek kehidupan), lengkap (tanpa mata rantai yang terputus), dan praktis (seruan yang terwujud dalam perbuatan, bukan sekadar ucapan). Hanya satu tokoh dalam sejarah manusia yang memenuhi keempat kriteria ini sekaligus — Muhammad ﷺ.
Allah sendiri berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ — "Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21)