Di sebuah gua di puncak Jabal Nur,
langit menyapa bumi untuk pertama kalinya.
Selama bertahun-tahun, beliau ﷺ merasakan kegelisahan. Di tengah masyarakat Mekah yang penuh dengan penyembahan berhala dan kerusakan moral, hati beliau tidak bisa tinggal diam. Beliau mencari kesendirian, mencari ketenangan, mencari kebenaran.
Pilihan beliau jatuh pada sebuah gua di puncak Jabal Nur — Gua Hira'. Letaknya jauh dari hiruk-pikuk kota, tapi dari pintu guanya, Ka'bah yang mulia masih bisa terlihat. Beliau biasa berada di sana selama beberapa malam, bertahannuts — beribadah dalam kesendirian. Jika bekalnya habis, beliau turun ke Khadijah, mengambil bekal lagi, lalu kembali.
Hingga tibalah malam itu. Malam yang mengubah sejarah seluruh umat manusia.
Beliau ﷺ berada di Gua Hira' — sendirian. Tiba-tiba Jibril datang dan berkata: "Iqra'!" — Bacalah! Beliau menjawab: "Aku tidak bisa membaca." Jibril lalu merangkul beliau dan menekan hingga beliau merasa kepayahan, kemudian melepaskannya dan berkata lagi: "Iqra'!" Beliau kembali menjawab: "Aku tidak bisa membaca." Tiga kali hal itu terjadi.
Kemudian Jibril membacakan: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-Alaq: 1–5)
Maka Rasulullah ﷺ berlari pulang dengan hati yang bergetar, tubuh yang menggigil. Beliau masuk menemui Khadijah dan berkata: "Selimuti aku, selimuti aku." Mereka pun menyelimutinya hingga rasa takut itu perlahan hilang.
Itulah wahyu pertama. Itulah awal dari misi terbesar yang pernah diemban seorang manusia.
Khadijah radhiyallahu anha adalah orang pertama yang membenarkan beliau, tanpa ragu sedikit pun. Ia tidak bertanya panjang lebar. Ia tidak meminta bukti tambahan. Ia langsung menenangkan suaminya dengan kata-kata yang telah menjadi bagian abadi dari sejarah Islam.
Kemudian Khadijah membawa beliau kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal — seorang tua yang telah memeluk agama Nasrani dan mempelajari Injil. Ketika Waraqah mendengar apa yang dialami Rasulullah ﷺ, ia berkata: "Ini adalah An-Naamus yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi Musa. Andai saja aku masih muda dan kuat ketika kaummu mengusirmu."
Rasulullah ﷺ bertanya dengan heran: "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab: "Ya. Tidak ada seorang pun yang datang membawa seperti yang kamu bawa kecuali pasti dimusuhi. Jika aku masih hidup saat itu, aku pasti akan mendukungmu dengan sekuat tenagaku."
Sungguh, pertemuan dengan Waraqah itu memberikan ketenangan baru bagi Rasulullah ﷺ — bahwa apa yang beliau alami adalah kebenaran, dan bahwa jalan yang akan beliau tempuh adalah jalan yang telah ditempuh para nabi sebelumnya.
Perlu diketahui bahwa wahyu pertama ini — mimpi yang benar — adalah berbeda dengan turunnya Surah Al-Alaq. Para ulama menjelaskan: wahyu pertama yang diterima Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar di waktu tidur; setiap mimpi yang beliau lihat selalu terbukti nyata seperti terangnya fajar. Kemudian barulah Al-Alaq turun melalui Jibril di Gua Hira'. Dan dengannya, Rasulullah ﷺ diangkat menjadi Nabi.
Adapun diangkatnya beliau menjadi Rasul — dengan kewajiban menyampaikan risalah kepada manusia — adalah dengan turunnya Surah Al-Mudatsir setelahnya. Ibnu Abbas berkata: "Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan pada hari Senin, dan dinobatkan sebagai nabi pada hari Senin."