Ketika Allah menghibur Nabi-Nya dengan perjalanan
yang belum pernah ditempuh makhluk manapun sebelumnya.
Bayangkan kondisi Nabi ﷺ saat itu. Dalam rentang waktu yang sangat singkat, dua orang yang paling beliau cintai dan andalkan pergi selamanya. Pertama Khadijah — istri sekaligus sahabat jiwa yang selalu hadir di saat paling guncang. Kemudian Abu Thalib — paman yang selama bertahun-tahun menjadi benteng dari tekanan musuh.
Tahun itu dikenal sebagai Aamul Huzni — Tahun Duka. Bukan hanya karena kehilangan dua orang tercinta, tapi juga karena kaum Quraisy semakin berani menyakiti beliau. Bahkan ketika beliau pergi ke Thaif mencari bantuan, penduduknya melemparinya dengan batu hingga sandal beliau berlumuran darah.
Di titik paling berat itulah, Allah memberikan sesuatu yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya.
Malam itu dimulai dengan sesuatu yang sangat intim. Beliau sedang berbaring di Hijr — bagian Ka'bah yang dinaungi — ketika tiba-tiba seseorang datang menghampiri. Dada beliau dibelah. Hati dikeluarkan, dicuci bersih dalam bejana emas berisi iman, lalu dijahit dan dikembalikan ke tempatnya. Sebuah penyucian, sebelum perjalanan yang tidak tertandingi.
Kemudian didatangkanlah seekor hewan putih — lebih kecil dari bighal, lebih besar dari keledai. Namanya Buraq. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Di atasnya, bersama Jibril, Nabi ﷺ melesat menuju Masjidil Aqsha.
Di Baitul Maqdis, para nabi telah menunggu. Nabi ﷺ mengimami mereka dalam shalat. Seluruh para nabi — Adam, Ibrahim, Musa, Isa, dan semua yang pernah diutus Allah — berdiri di belakang satu imam: Muhammad ﷺ. Bukan kebetulan. Ini pernyataan Allah kepada seluruh langit dan bumi tentang siapa penutup dan pemimpin para nabi itu.
Mi'raj — naik menembus langit demi langit. Di setiap pintu, Jibril mengetuk. Dialog yang sama berulang: "Siapa?" — "Jibril." — "Siapa bersamamu?" — "Muhammad." — "Apakah ia telah diutus?" — "Ya." — "Selamat datang, sebaik-baik tamu yang datang." Pintu terbuka, dan di dalam ada seorang nabi yang menanti.
5 waktu dalam pelaksanaan — tapi bernilai 50 dalam timbangan pahala. Kemurahan Allah yang tidak terhingga.
Di puncak langit ketujuh, di hadapan Sidratul Muntaha — pohon bidara di batas tertinggi yang dedaunannya selebar telinga gajah — Allah mewajibkan shalat. Bukan melalui malaikat. Bukan melalui wahyu yang diturunkan ke bumi. Langsung. Di hadapan-Nya. Lima puluh waktu dalam sehari semalam.
Dalam perjalanan turun, Nabi ﷺ bertemu Musa di langit keenam. Musa bertanya: "Apa yang diperintahkan kepadamu?" Nabi menjawab: lima puluh waktu shalat. Musa berkata dengan nada yang bukan meragukan, tapi penuh pengalaman: "Kembalilah, minta keringanan. Aku pernah mencobanya pada Bani Israil. Umatmu tidak akan sanggup."
Nabi ﷺ kembali. Dikurangi sepuluh. Turun lagi, Musa menunggu. "Kembalilah lagi." Begitu berulang — naik, turun, naik, turun — hingga tersisa lima waktu. Kali ini Nabi ﷺ berkata: "Aku telah meminta kepada Allah hingga aku merasa malu. Aku ridha dan menerima."
Maka terdengar seruan dari atas: "Aku telah tetapkan kewajibanku dan Aku telah ringankan dari hamba-hamba-Ku." Lima waktu dalam pelaksanaan — tapi lima puluh dalam timbangan pahala.
Pagi harinya, Nabi ﷺ mengabarkan perjalanan itu kepada penduduk Mekkah. Reaksinya bisa ditebak. Ada yang bertepuk tangan karena heran — gesture yang biasa dilakukan saat merasa ada kebohongan besar. Ada yang meletakkan tangan di kepala karena tidak habis pikir. Perjalanan ke Baitul Maqdis biasanya memakan waktu satu bulan pergi, satu bulan pulang. Diklaim selesai dalam satu malam?
Mereka meminta bukti. Allah menyingkap tabir antara Nabi dan Baitul Maqdis — beliau melihatnya seperti diletakkan tepat di hadapannya, dan menggambarkan detail bangunannya satu per satu. Semua tepat. Setiap ciri-ciri yang disebutkan terbukti benar oleh mereka yang pernah ke sana.
Tapi bagi orang yang sudah menutup hatinya, bukti sebanyak apapun tidak akan pernah cukup. Ibnul Qayyim mencatat: semakin nyata buktinya, semakin keras penolakan mereka — karena yang mereka tolak bukan fakta, tapi kebenaran itu sendiri.
"Tidak ada daya dalam menjauhi maksiat, dan tidak ada kekuatan dalam menjalankan ketaatan — melainkan dengan pertolongan Allah."
Wasiat Nabi Ibrahim kepada Nabi ﷺ dalam perjalanan Isra — HR. Ahmad, dikuatkan Syaikh Al-Albani
Dalam perjalanan Isra, ketika melewati Nabi Ibrahim, Ibrahim menyampaikan sebuah pesan untuk dibawa pulang ke bumi — bukan untuk Nabi saja, tapi untuk seluruh umatnya. Ia berkata: "Perintahkanlah umatmu untuk memperbanyak bacaan ini — karena ia adalah tanaman surga, tanahnya subur, lahannya luas."
Kalimat itu adalah Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah. Kalimat pengakuan paling jujur: bahwa kita tidak punya daya apa-apa untuk menjauhi dosa, dan tidak punya kekuatan apa-apa untuk taat — kecuali dengan izin dan pertolongan Allah. Setiap kali kita mengucapkannya, kita menanam pohon di surga.
"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya."
QS. Al-Isra': 1 — Allah yang memperjalankan, bukan Nabi yang mengklaim pergi sendiri.