Tiga belas tahun berdakwah di Mekah. Kini Allah mengizinkan perpindahan
yang akan mengubah wajah dunia selamanya.
Tiga belas tahun. Tiga belas tahun lamanya Rasulullah ﷺ berdakwah di Mekah — mengajak manusia kepada tauhid, siang dan malam. Berbagai rintangan datang. Para sahabat disiksa. Beliau sendiri tak leluasa beribadah dan berdakwah. Tapi beliau tetap di sana, sampai Allah mengizinkan perpindahan.
Ketika kaum musyrik Mekah mengetahui para sahabat bersiap hijrah — memindahkan kaum wanita, anak-anak, dan harta ke Madinah — mereka khawatir. Mereka berkumpul di Darun Nadwah untuk bermusyawarah. Hadir pula pemimpin mereka, yaitu iblis dalam wujud seorang lelaki tua dari penduduk Najd. Abu Jahal mengusulkan: "Ambil dari setiap kabilah seorang pemuda yang kuat, bersenjatakan pedang tajam, lalu serang Muhammad serentak. Darahnya akan terbagi di antara kabilah, sehingga Bani Abdu Manaf tidak tahu harus membalas kepada siapa."
Jibril datang dengan wahyu — memberitahu Rasulullah ﷺ tentang rencana itu dan memerintahkan beliau agar tidak tidur di tempat tidurnya malam itu. Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Bakar di tengah hari — waktu yang beliau tidak pernah datang sebelumnya — dan bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku untuk berangkat."
Beliau memerintahkan Ali untuk tidur di tempat tidurnya, lalu keduanya keluar melalui pintu kecil. Para pemuda Quraisy mengintip dari celah pintu — siap menyerang — namun Rasulullah ﷺ keluar melewati mereka sambil menaburkan segenggam tanah di atas kepala-kepala mereka, sementara mereka sama sekali tidak melihat beliau.
Mereka berjalan menuju Gua Tsur dan bersembunyi di sana selama tiga hari. Asma' binti Abu Bakar membawakan bekal, Abdullah bin Abu Bakar memantau situasi di Mekah. Ketika kaum musyrik datang mencari dan hampir melewati pintu gua — bahkan telapak kaki mereka hampir terasa di dekat Rasulullah ﷺ dan sahabatnya — Abu Bakar berbisik cemas: "Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, tentu mereka akan melihat kita." Rasulullah ﷺ menjawab dengan tenang: "Wahai Abu Bakar, apa yang kau kira tentang dua orang yang ketiganya adalah Allah?"
Setelah tiga hari di Gua Tsur, Ibnu Uraiqith datang dengan dua unta — sang pemandu jalan yang mahir meski masih menganut agama kaumnya. Mereka pun berangkat. Penjagaan Allah menyertai perjalanan itu. Quraisy menawarkan hadiah seratus ekor unta bagi yang bisa menangkap salah satu dari keduanya — namun Allah berkuasa atas urusan-Nya.
Sesampainya di Quba' — di pinggiran Madinah — Rasulullah ﷺ singgah dan mendirikan Masjid Quba', masjid yang pertama kali dibangun dalam Islam. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah dan disambut oleh penduduknya dengan gembira.
Setelah menetap di Madinah, Rasulullah ﷺ segera membangun fondasi-fondasi peradaban baru. Yang pertama: Masjid Nabawi. Yang kedua: mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar — satu persatu, bukan sekadar deklarasi. Yang ketiga: membuat perjanjian dengan kaum Yahudi di Madinah.
Nabi ﷺ tinggal di Madinah 10 tahun lamanya. Di sana turun syariat demi syariat — puasa, zakat, haji, jihad. Beliau hidup bersama para istrinya dan para sahabatnya, berjuang menyebarkan Islam dengan lebih leluasa.
Dan momentum hijrah ini menjadi awal kebangkitan Islam yang sesungguhnya. Itulah mengapa para sahabat — atas musyawarah Umar bin Khathab — sepakat menjadikannya sebagai patokan awal kalender Hijriyah.