Ramadan tahun ke-2 Hijriah. Tiga ratus lebih orang beriman
menghadapi seribu pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap.
Ramadan, tahun kedua Hijriyah. Berita sampai kepada Rasulullah ﷺ bahwa kafilah Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan sedang dalam perjalanan pulang dari Syam — membawa harta yang besar. Beliau menyeru para sahabat: "Ini adalah kafilah Quraisy yang membawa harta mereka. Keluarlah menyongsongnya, mudah-mudahan Allah menganugerahkannya kepada kalian."
Berangkatlah Rasulullah ﷺ bersama 319 sahabat. Sebagian besar dari mereka tidak membawa persenjataan perang yang lengkap — mereka awalnya hanya bermaksud mencegat kafilah, bukan berperang.
Namun Abu Sufyan lebih dahulu mengetahui dan mengalihkan kafilahnya. Ia juga mengirim Dhamdam bin Amr ke Mekah untuk meminta bala bantuan. Quraisy pun keluar dengan seribu orang bersenjata lengkap — tiga kali lipat lebih banyak. Mereka berkata dengan sombong: "Apakah Muhammad dan para sahabatnya menyangka ini akan sama seperti kafilah Ibnu al-Hadhrami? Tidak, demi Allah! Mereka pasti akan mengetahui sesuatu yang lain dari itu."
Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui kafilah sudah lolos dan pasukan Quraisy mendekat, beliau bermusyawarah. Saat beliau bertanya kepada kaum Anshar — sebab mereka berjanji membela beliau di dalam Madinah, bukan di luar — Sa'd bin Mu'adz berdiri dan berkata: "Kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu. Seandainya engkau ajak kami menyeberangi lautan ini, niscaya kami menyeberanginya bersamamu. Tidak akan ada seorang pun dari kami yang tertinggal."
Rasulullah ﷺ pun merasa gembira dan bersabda: "Berangkatlah dan bergembiralah! Allah Ta'ala telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua golongan. Demi Allah, seolah-olah aku sekarang sudah melihat tempat-tempat jatuhnya orang-orang itu."
Malam ketujuh belas Ramadan — malam Badar. Ali radhiyallahu anhu bertutur: "Sungguh aku melihat keadaan kami pada hari Badar; tidak seorang pun dari kami yang tidak tertidur, kecuali Rasulullah ﷺ. Beliau terus shalat menghadap sebuah pohon dan berdoa hingga subuh tiba."
Ketika fajar terbit, Rasulullah ﷺ berseru: "Shalat, wahai hamba-hamba Allah!" Lalu beliau mengimami shalat Subuh dan memomong semangat untuk berperang.
Pertempuran dimulai dengan duel satu lawan satu sesuai tradisi Arab. Dari pihak Quraisy tampil Utbah bin Rabi'ah, saudaranya Syaibah, dan putranya Al-Walid. Dari pihak kaum muslimin, mereka dihadapi oleh Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin Al-Harits radhiyallahu anhum. Ketiganya berhasil membunuh lawannya — dan kaum muslimin pun bertakbir.
Ketika pertempuran penuh dimulai, Ali berkata: "Kami berlindung di balik Rasulullah ﷺ, sementara beliau adalah orang yang paling dekat di antara kami dengan musuh, dan beliau adalah orang yang paling keras keberaniannya."
Allah menurunkan bantuan berupa malaikat. Kaum musyrikin terus berjatuhan. Abu Jahal terbunuh oleh dua pemuda Anshar putra Afra'. Kekalahan menimpa Quraisy: tujuh puluh orang terbunuh, tujuh puluh orang tertawan, sisanya melarikan diri meninggalkan banyak ghanimah.
Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan agar jasad-jasad orang musyrikin diseret ke salah satu sumur dan dilemparkan ke dalamnya. Pada hari ketiga, beliau berjalan menuju sumur itu, lalu mulai memanggil-manggil mereka dengan menyebut nama-nama mereka dan nama-nama ayah mereka: "Apakah menyenangkan bagi kalian seandainya kalian dahulu menaati Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhan kami kepada kami adalah benar. Apakah kalian juga mendapati apa yang dijanjikan Tuhan kalian kepada kalian adalah benar?"
Umar berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana engkau berbicara kepada jasad-jasad yang tidak memiliki ruh?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih bisa mendengar apa yang aku katakan daripada mereka."