Dua puluh tahun setelah diusir, beliau ﷺ kembali
bukan sebagai penakluk yang haus darah, tapi sebagai rahmat bagi semesta.
Tahun ke-8 Hijriah. Perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh Quraisy ketika mereka membantu Bani Bakr menyerang Bani Khuza'ah — sekutu kaum muslimin. Rasulullah ﷺ pun bergerak.
Beliau berangkat dengan sepuluh ribu pasukan — jumlah yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah Islam. Quraisy yang selama ini membanggakan kekuatan mereka, kini tidak berdaya.
Abu Sufyan bin Harb — pemimpin Quraisy — memilih jalan yang bijak. Ia datang menemui Rasulullah ﷺ di Marruz-Zahran dan menyatakan keislamannya. Al-Abbas bin Abdul Muththalib yang mendampinginya memohon kepada Rasulullah ﷺ agar memberikan Abu Sufyan kehormatan. Maka beliau bersabda: "Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan, ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Barangsiapa masuk ke Masjidil Haram, ia aman."
Pasukan Islam memasuki Mekah tanpa pertumpahan darah yang berarti. Rasulullah ﷺ masuk dengan kepala tertunduk di atas punggung untanya — rendah hati, bukan sombong. Beliau bertakbir ketika memandangi Ka'bah. Dan Ka'bah masih berdiri, dengan 360 berhala yang mengelilinginya.
Beliau masuk ke Masjidil Haram. Tangan beliau memegang tongkat. Satu per satu berhala itu beliau jatuhkan sambil membacakan: جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ، إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا — "Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap." (QS. Al-Isra': 81)
Rasulullah ﷺ masuk ke dalam Ka'bah setelah dibersihkan dari gambar-gambar yang ada di dalamnya. Beliau bertakbir di setiap sudutnya dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau menyerahkan kunci Ka'bah kepada Utsman bin Thalhah seraya bersabda: "Ambillah kunci ini, ia menjadi milik kalian selamanya dan turun-temurun. Tidak ada yang akan mencabutnya dari kalian kecuali orang yang zalim."
Bilal radhiyallahu anhu — yang pernah disiksa di atas pasir panas Mekah — naik ke atas Ka'bah untuk mengumandangkan adzan Zhuhur. Momen itu menggetarkan. Sebagian orang Quraisy yang masih menyimpan kesombongan berkata: "Sungguh Allah telah memuliakan ayahku dengan tidak mendengar ini." Abu Sufyan hanya bisa berkata: "Aku tidak akan mengatakan apa-apa, sebab jika aku berbicara, batu kerikil ini pasti akan melaporkanku."
Rasulullah ﷺ kemudian menyampaikan khutbah yang agung — penuh kemuliaan akhlak. Beliau berkata: "Sesungguhnya Allah mengharamkan Mekah sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Allah telah mengizinkannya untukku berperang di sana sesaat saja pada siang hari, lalu kehormatan itu kembali seperti sediakala."
Pasukan-pasukan kecil dikirim ke penjuru untuk menghancurkan berhala-berhala besar di sekitar Mekah: Khalid bin Al-Walid menghancurkan Al-Uzza, Amr bin Al-Ash menghancurkan Suwa', Sa'd bin Zaid Al-Asyhali menghancurkan Manat. Berhala-berhala yang selama berabad-abad mengikat jiwa Arabia — dalam satu hari, lenyap semua.
Rasulullah ﷺ menetap di Mekah dan menata urusan kota. Beliau menunjuk Attab bin Usaid sebagai amir, Abu Mahdzurah sebagai muadzin Masjidil Haram, dan Mu'adz bin Jabal untuk mengajarkan sunnah, fikih, dan mengajar di Masjidil Haram.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Amr bin Salamah: "Bangsa Arab menunggu-nunggu penaklukan untuk memutuskan keislamannya. Mereka berkata: 'Biarkanlah dia dan kaumnya. Jika ia menang atas mereka, ia adalah nabi yang benar.' Maka tatkala terjadi peristiwa penaklukan, setiap kaum segera menyatakan keislamannya."