Menelusuri rantai keturunan paling agung yang pernah ada — garis yang dipilih Allah, generasi demi generasi, hingga lahirlah manusia terbaik.
Bismillah...
Sebelum kita mengenal seorang manusia, kita perlu mengenal dari mana ia berasal.
Dan Nabi kita — Muhammad ﷺ — berasal dari garis keturunan yang paling mulia yang pernah ada di muka bumi.
Bukan kemuliaan karena harta. Bukan karena kekuasaan. Tapi kemuliaan yang dipilih langsung oleh Allah — generasi demi generasi — hingga sampailah cahaya itu pada sosok terbaik yang pernah menginjakkan kaki di bumi ini.
Nabi ﷺ sendiri pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail. Allah memilih Quraisy dari Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy. Dan Allah memilihku dari Bani Hasyim." (HR. Muslim no. 2276)
Subhanallah. Bayangkan — dari sekian ratus juta manusia yang pernah hidup, dari sekian ribu suku dan kabilah Arab — Allah memilih satu garis. Dan di ujung garis itu, lahirlah Muhammad ﷺ.
"Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail. Allah memilih Quraisy dari Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy. Dan Allah memilihku dari Bani Hasyim."
Mungkin ada yang bertanya: kenapa kita perlu tahu nasab Nabi ﷺ? Apakah ini sekadar hafalan nama-nama panjang?
Tidak. Jauh dari itu.
Para ulama menjelaskan, ada hikmah besar di balik Allah memilih Nabi ﷺ dari nasab yang mulia ini.
Bangsa Arab — di masa itu — hanya mau mendengarkan dan menerima dakwah dari seseorang yang memiliki nasab terhormat di tengah mereka. Bukan karena Islam membenarkan fanatisme suku. Tapi karena Allah Maha Tahu bagaimana cara dakwah-Nya bisa diterima oleh kaumnya.
Dan lihat — meski musuh-musuh Nabi ﷺ berusaha habis-habisan mencoreng kehormatan beliau — tak satu pun dari mereka yang mampu mencela nasabnya. Bahkan Abu Sufyan, saat masih kafir, dengan jujur mengakui di hadapan Raja Romawi: "Dia memiliki nasab di antara kami."
Ini bukan sekadar kemuliaan manusiawi. Ini adalah tanda pilihan Allah.
Dan yang lebih indah: nasab yang mulia itu tidak membuat Nabi ﷺ sombong. Justru dengan kemuliaan itu, beliau menjadi yang paling rendah hati, paling kasih sayang, dan paling dekat dengan rakyat jelata.
"Dia (Muhammad) di sisi kami adalah orang yang memiliki nasab yang mulia."
Bahkan musuh-musuh beliau pun tak mampu mencela nasabnya ﷺ